Selasa, 16 Oktober 2012

Nyi Imas


Saya merasa ada yang lucu dan geli ketika OB di kantor menyodorkan tagihan minuman yang saya ambil bulan lalu. Kebetulan sistem bayarnya ngutang dan dibayar setelah gajian. Kebetulan OB-nya kan orang Sunda jadi dia memanggil saya Teteh karena saya orang Serang. Disitu kertas itu tertera tulisan saya yang menuliskan nama Imas dan ternyata ada yang menambahkan kata Nyi di depan nama saya jadinya Nyi Imas hahahahahahaha…  Jadul banget. Kalo saja saya tidak tahu arti dari kata sapaan Nyi dalam kultur Sunda mungkin saya sebel banget kali. Nyai atau Nyi kan kesannya kayak nenek-nenek gitu. Kalo kagak tau sih mungkin cewek masih muda ngamuk dipanggil Nyai hahahahay.
Inget film Kabayan kan? Nah Kang Kabayan kan manggil gadis yang ia sukai dengan sapaan Nyi Iteung. Nyai atau Nyi itu dalam kultur Sunda sama dengan Neng (sapaan kepada gadis muda) perbedaannya adalah kalo Nyai/Nyi ini dipake sama orang-orang tua dulu dan Neng dipake sama orang-orang zaman sekarang. Nyai/Nyi ini khasnya Sunda Priangan. Jadi saya merasa geli sekaligus merasa senang  dan terhormat disapa Nyi walaupun jadul sekalee.
Dulu juga saya merasa ga keren banget kalo disapa Nong kayaknya kerenan Neng deh. Selidik punya selidik ternyata Nyai/Nyi dan Nong ini sama Cuma kalo Nyai/Nyi dipake Sunda Priangan dan Nong dipake Sunda Banten dan juga sama-sama jadulnya hahaha..
Saya kan tinggal di Serang yang mayoritas berbahasa Jawa dan orang-orang Jawa Serang yang termasuk golongan sepuh-sepuh dan orang-orang yang tinggal di kampung masih pake Nong untuk memanggil gadis muda sedangkan kalo di Serang kota udah pada pake Neng. Setelah tahu nilai dan budaya saya jadi lebih suka dengan Nong dan Nyai/Nyi ini walau jadul tapi unik dan menarik yah walaupun sekarang mulai tergeser dan kalah pamor dengan Neng yang dianggap lebih kota dan keren hahahaha..

Kamis, 11 Oktober 2012

Learning English is Fun


One day my boarding house friend laughed very loud and I wanted to know so I went to her room to know why and she said that she was having fun watching The Big Bang Theory. Did you know when the first time what I thought about it? I was thinking that it was a science fiction film (that I have gone wrong deduction). So she told me that The Big Bang Theory is a sitcom about a group of nerds. She said it was funny.

Then she told to watch it by myself to take a look how funny it was. I finally got one season of this sitcom on my laptop and tried to watch it carefully. Surprisingly, I did not get into the jokes so I did not laugh. I ended up watching it just because I thought I could practice my English. (here, I wanted to make clear that I like American English accent because I think it sounds nice for non-native speaker like me who is trying to sound like native to imitate. You know I could not imitate the sexy and gorgeous accent of British because it is too unnatural for non-native speaker like me who never been overseas to imitate. I think I would sound tacky if I do that. But yes I like British English very much yet I just could not imitate it)

I was very surprised to see Sheldon who got a little bit alike with Sherlock. He is fast-talking, scientist, very smart, incapable of making social relationship well because he puts too much attention on himself and the one who could bear someone like him is Leonard, his roommate. I was so surprised because I think that kind of relationship is like Sherlock Holmes and John Watson. I like Sheldon because he is like Sherlock Holmes a little bit.

This sitcom is about nerd life and now I was getting into it. I could understand the joke that was pretty much funny and I was having fun with that. I should say that watching this could make me feel enjoy something that I want to learn. I would explain to you, actually I am a student of English program who suppose to master English but I always think that I am not good. So I try my best to always learning but I end up with boring situation. I always know that the best way to learn language is by using it. I am using my senses to catch everything that I could learn from English. By watching movies, cartoons, or this sitcom, I learn much about English. I like language because I think I have so many ways to gain knowledge not just by sitting around in the library and reading many books. (I still think reading book is best way to make you smart haha). Now, I was writing something and what it was about I did not care because the point was I start to write again and that was good for me. 

Rabu, 10 Oktober 2012

Something Called Emotion



People have feeling. They feel everything. They react to everything around them. We could show our feeling to others in order to create a situation that we want. Why I say a situation (or may be condition). Why did not I say a relationship? Recently, I have experienced so many feelings but it is not just a feeling but I realize it by my awareness as a human being that my feeling or I would like to call it my emotion would create such a situation and condition with others. This emotion I perceive that everyone notices by themselves when they grown up and learn the slice of life, the sweetness and the bitterness sides of life. It is quite wonderful   since I realize it.
I am so called a bad temper person. Sometimes just a little tiny pieces of problem could ignite the fire in my heart. Just a little mistake and I would cry for nothing actually. And I realize it I cry because I want to cry. On Sunday I had a fight with my younger sister just because she brought the boarding house key with her while she was having fun with others. I could wait actually. I was very very very much mean to her. I mean that she just got me in this place because we are far away from home. And I was so blind to mock her. I really felt bad about myself. I was so sorry for her because I was so mean, rude, selfish, and unbelievable that I did not have a abit of thought about how she was feeling towards me when I said something bad about her since I am her older sister.
My emotion is always unstable every time when I have my period. I will be very rude and cannot control myself so I just will speak my heart out without even thinking what I am saying would hurt others and my lovely sister who was actually not really guilty in this case . It was me who created the bad situation now, my feeling, my emotion because I could not control it well. I would try to tame my emotion. I have to.
To adapt with others we have to restrain ourselves that is what I think. Though I love Sherlock Holmes so much and Sherlock BBC (he is sociopathic), I am no him. Although Sherlock cannot make friend easy but he always has John and he values John most in his Life as best friend. What I am trying to say is that he is able to maintain his relationship well in his own way. That's wonderful, I think.

I have to value people around me not because it will please them but it also reciprocates. The feeling, the emotion of happiness in sharing will also bring joyful in life. That’s why I am not gonna lost with my emotion again. Because there are so much happiness out there if can put aside the bad emotion like shy (why I have to be shy if I don’t commit wrong doing, it is such a foolish notion) and the anger. But, yes talking about emotion and feeling there are so many forms of them. I  am no expert.  I am just jotting down everything that cross my mind now.
I am really really sorry my little sister.

Selasa, 14 Agustus 2012

Kenapa berbahasa Jawa tapi Pake Teteh

Sebagai wong Banten asli, saya kuliah di Depok salah satu daerah Jawa Barat yang lebih dekat dengan budaya Jakarta ketimbang budaya Jawa Barat yang bercorak Sunda. Depok merupakan tempat yang bisa dibilang multikultur karena orang-orang Indonesia dari berbagai daerah ada di situ. Dari etnis Jawa sebagai etnis terbesar di Indonesia sampai Papua terkadang juga nongol di Depok bahkan orang Baduy saja yang terkenal anti modernisme tak jarang menjajakan madu-madu aslinya di kampus saya. Nah, inilah yang saya bingung dulu karena secara administratif Depok Jawa Barat tapi kenapa saya merasa ada di Jakarta.
Kemarin dulu teman-teman saya orang Magelang, Jakarta, dan daerah Bojong maen ke Serang dan Cilegon yang notabene wilayah Banten bukan Jabar tapi ketika di daerah tersebut mereka merasa seperti mengunjungi daerah Jawa Barat katanya. Hal yang menyedihkan mungkin karena gaung Banten belum begitu besar ada orang yang mengira bahwa daerah Banten, Serang, Cilegon, Pandeglang, Lebak, itu dulu Jakarta (sebagian wilayah Tangerang memang dulu Jakarta). Aduduh… sedihnyo saya karena orang tidak tahu Banten. Jadi begini sodara-sodara Banten adalah sebuah provinsi pemekaran dari Jawa Barat dan baru merdeka tahun 2000 jadi secara adminsitratif antara Banten dan Jabar putus hubungan ceritanya. Udah masing-masing gitu.
Nah karena banyak yang tidak tahu inilah orang sering bingung sama saya yang orang Serang ini. Nah ceritanya saya habis menemui teman saya yang diwisuda dan salah satu teman saya yang diwisuda itu bertanya  kepada saya karena kami tidak saling kenal “aku manggilnya apa?” refleks saya jawab “panggil teteh aja” lalu setelah si teman wanita itu pergi dan teman saya yang satu lagi, pria bertanya “bukannya lo orang Serang yah, kok makenya teteh sih, kan Banten” waduh saya kan jadi sebel ditanya gitu orang saya emang biasa dipanggil Teteh. Bener banget, memang sapaan Teteh digunakan oleh orang-orang Sunda untuk memanggil kakak perempuan dan sudah menjadi ciri khasnya orang Sunda. Dan sedangkan Serang mayoritas memang tidak menyebut dirinya orang Sunda  karena berbahasa Jawa dialek Serang yang sering disebut Jaseng alias Jawa Serang.
Secara historis daerah Banten tidak bisa lepas dari Jawa Barat Karena dahulu, Banten merupakan salah satu wilayah Kerajaan Padjajaran. Namun legitimasi Padjajaran mulai terusik ketika Kesultanan Demak dan Kesultanan Cirebon menyerang daerah Banten dan mengambilnya dari tangan Kerajaan Padjajaran yang beretnis Sunda. Pasukan gabungan Demak dan Cirebon yang beretnis Jawa ini kemudian mendirikan sebuah kerajaan yang besar yaitu Kerajaan Banten karena Banten dahulu beragama Hindu dan para laskar ini kemudian mengislamkan seluruh daerah Banten kecuali orang Kanekes yang dikenal juga dengan sebutan Suku Baduy. Nah para pendatang ini menempati daerah Tangerang bagian barat, Serang, dan Cilegon karena datangnya etnis Jawa maka mulai masuk bahasa Jawa dan budaya Jawa Ke Banten yang sebenarnya tanah Pasundan alias tanah Sunda. Bahasa Jawa yang digunakan adalah bahasa Jawa rumpun ngapak yang setiap kata berakhiran –a bukan –o. Bahasa jawa jenis ini dikategorikan kasar yang mirip dengan dialek Jawa Cirebon, Banyumasan, Dermayon, Tegal. Bahasa Jawa yang dituturkan penduduk pada zaman kesultanan ini pada awalnya masih sama dengan bahasa Jawa daerah Cirebon namun mulai terlihat bedanya karena dikelilingi oleh penutur yang berbahasa Sunda. Bahasa Jawa tersebut berkembang menjadi dialek sendiri yaitu Jaseng (Jawa Serang) dan dituturkan di daerah Serang, Cilegon serta sebagian wilayah Tangerang disebut dengan daerah Banten lor (Banten utara) sedangkan daerah Pandeglang dan Lebak berbahasa Sunda dialek Banten yang merupakan campuran antara bahasa Sunda kuno, bahasa Sunda modern dan bahasa Indonesia disebut juga dengan dearah Banten Selatan. Jadi di Banten ada juga orang Jawanya tapi Jawa Banten, ada pula Sunda Banten serta Suku Baduy yang merupakan sub suku Sunda yang anti modernisasi yang mendiami wilayah Kanekes, Lebak.
Nah permasalahannya adalah ketika anda memasuki wilayah Serang sudah pasti anda akan mendengar orang-orang berbahasa Jawa dialek Serang namun yang membuat teman saya yang orang Magelang ini bingung adalah kenapa orang Serang berbahasa Jawa tapi menyapa kakak perempuan bukan dengan sapaan Mbak/ Mbakyu atau Yayu layaknya orang Jawa. Dan memang kenyataannya tidak ada orang Banten asli yang memanggil kakak perempuan dengan sapaan Mbak. Bagi orang Jawa Banten sendiri menyapa kakak laki-laki dengan sebutan Kakang dan saya juga terkejut karena baru-baru ini saya melakukan penelitian ternyata orang Jawa, maksud saya orang Jawa asli juga memanggil Kakang tapi itu jadul sekali dan Kakang ini berpasangan dengan Mbakyu (Lah wong saya tahunya wong Jowo manggilnya Mas sama Mbak doang kalo dulu). Sedangkan daerah Cirebon yang merupakan perbatasan Jawa dan Sunda memanggil Kakang dan Yayu. Nah kalo sekarang Daerah Cirebon ini beragam ada yang manggil Mas-Mbak, ada juga yang manggil Aa-Teteh tergantung dekat ke Jabar atau ke Jateng. Ketika saya tanya teman-teman saya yang asli wong Jowo mereka mengiyakan bahwa dulu emang manggilnya Kakang-Mbakyu dan salah satu teman saya yang saya tanyai kaget loh pas saya bilang kalo orang Serang yang berbahasa Jawa manggil Kakang tapi manggil Teteh ke perempuannya. Karena jelas-jelas yang terpikir di benak anda ketika mendengar kata Teteh yaitu orang Sunda. Jadilah saya semakin paham bahwa orang Banten itu bukan Jawa bukan pula Sunda karena tidak mungkin Wong jowo asli manggil kakaknya Teteh mereka sudah punya trademark sendiri yaitu Mbae..
Timbulah niat saya untuk melihat distribusi kata sapaan Teteh ini. Dan ternyata tak disangka tak dinyana orang baduy juga manggil Teteh sodara-sodara jadi kesimpulannya memang Teteh itu asli Sunda pisan, bagaimana tidak asli kalo mereka saja anti modernisasi masa iya mau ganti-ganti sapaan kakak perempuan segala. Kalo orang Baduy ini menyapa kakak dengan sebutan khas Aa-Teteh, sedangkan Sunda Banten yang meliputi wilayah Pandeglang dan Lebak menyapa Kaka-Teteh, nah kalo ke Serang anda akan mendengar Kakang-Teteh. Kategori terakhir inilah yang mempunyai wujud akulturasi antara dua budaya yaitu Jawa dan Sunda. Menarik yah. Sedangkan jika kita menyebrang ke daerah Bandung dan sekitarnya akan mendengar sapaan Akang-Teteh. Akang sendiri sebenarnya berpasangan dengan Ceucue (sebutan lain dari Teteh untuk wilayah Priangan). Namun sudah agak jarang orang sekarang menggunakan sapaan Ceuceu ini (tapi masih dipake Cuma agak jarang Ceu). Jadi jelaslah bahwa distribusi sapaan Teteh itu hanya dipakai di daerah Jabar-Banten.
Ternyata nih daerah Jabar dan Banten agak menyatu dengan sapaan Teteh plus si Teteh dari Jabar-Banten ini lebih suka memanggil kakak laki-laki dengan sapaan Aa jadinya kalo manggil kakak sarua wae alias podho wae, kalo orang Sunda dan Banten Sekarang manggil kakak dengan Aa-Teteh. Hal ini didasari karena sapaan Aa dipandang lebih keren, lebih enak didengar, dan lebih mesra katanya kalo pake Aa (menurut si Teteh dari Jabar-Banten yang saya tanyai loh) . Hahahahahaha… Saya jadi mikir.. wah berarti sama kayak orang Baduy yah kembali ke sapaan asli orang Sunda.
Jadi karena harus menyapa orang-orang dengan sapaan Aa dan Teteh itulah teman saya yang dari Magelang, Jakarta dan Bojong ini bilang kalo Banten kayak Jawa Barat. Lebih nyunda dari Depok yang Jabar.. yah jelaslah kan Depok mah Abang-Mpok alias Betawi, Neng. Jadi jangan heran kalo ke Serang mendengar kalimat “ Aa/Teteh, arep ning endi?” hahahaha memang agak aneh dan unik karena biasanya kan kalo ngomong bahasa Jawa manggilnya Mas dan Mbak hehehe… itu karena perbedaan itu Indah dan ternyata dapat saling menyatu dan menjadi identitas baru seperti halnya orang Banten walau tak jelas arah ke mana sehingga orang Serang, Cilegon, dan Tangerang akan menyebut orang Banten yang sebenarnya mengacu pada wilayah yang didiami dan kemudian menjadi suku sendiri karena sudah berbeda sekali antara orang Jawa Banten dengan Suku Jawa yang mendiami wilayah Jateng, Jatim, dan Yogya. Namun masih satu yaitu Orang Indonesia. Hidup Indonesia! Hihi….